Selasa, 24 Februari 2009

kebersamaan itu..( I )

effos


rentrix edwin affandi



asyik menyita McD





Mengajar .. suatu kegiatan yang sangat mendarah daging dalam jiwaku. Tanpa mengajar, hatiku terasa hampa, badanku terasa sakit. Walau aku dalam demam sekali pun, bila aku harus mengajar, maka insya Allah rasa itu terkurangi. Rasa bete dan stress terkurangi bahkan hilang ketika mengajar. Bagiku, mengajar adalah panggilan jiwa yang tak bisa ditawar-tawar. Kuberikan ilmu yang ada padaku untukmu semua, siswaku. Tak hanya mentransfer namun juga mentransform, kata Bapak Arief Rachman, dosen idolaku dulu. Mengajar itu juga dengan hati. Karena itu kuharap yang kuajar juga merasakan bahwa pelajaran itu adalah menyenangkan, that English is fun! Saya takkan mengajarkan muluk-muluk. saya hanya ingin menularkan bahwa berbahasa Inggris itu menyenangkan karena dengan menguasai bahasa lain kita bisa berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai negara, ras dan suku. Dalam hal ini adalah Bahasa Inggris. kalau kita sudah menyenangi, dan tidak menganggapnya sebagai momok, maka kita pasti akan dengan enteng saja mempelajarinya.




Dalam pengajaranku selama ini baik mengajar Playgroup, SD, SMP, SMA bahkan di PTIK ini, alhamdulillah kasihku dalam mengajar rupanya terasakan juga oleh siswa-siswa didikku. Terkadang.. terasa berat bagi kami untuk berpisah kala kami sudah saling mengenal lebih dekat.




Hari terakhir mengajar bahasa Inggris Angkatan 52,UAS Speaking TEST...




Mahasiswa terakhir telah selesai menceritakan pengalamannya yang tak terlupakan selama mereka menjadi polisi sebelum masuk PTIK, kuucapkan salam perpisahan, dan tak lupa permohonan maafku bila selama mengajar mereka aku ada kata mau pun tindak yang tak kusengaja dan sengaja yang menyakiti hati mereka. (Biasanya sich jawabannya, "ngggaaaak, Maaam!!" hehehe nggak tau tulus apa beneran, tuh)

Tiba-tiba Effos, sang Ketua Kelas berdiri dan memanggil teman-teman yang memang dikeluarkan karena test Speaking itu adalah test yang face to face satu demi satu berhadapan dengan dosennya. " Mam, jangan pulang dulu, ini kita ada untuk Mam, habis Mam nggak mau diajak makan keluar siiich". Dalam bengongku tahu-tahu ,"taraaa..." seorang deliverman McD datang dengan segedombrongan kotak McD. "Yuuuuk" dan bertepuk tanganlah mahluk-mahluk lapar di kelasku. "Ya Ampyuuuun" aku ternganga.

Dan dengan semangat mereka melahap barang bukti itu. Karena sedang shaum, maka aku tidak ikut makan..

Ah, para mahasiswaku tersayang...




Sabtu, 07 Februari 2009

Postingan notes pengalaman polisi yang cergas


Sudah saya katakan sebelumnya, dari PTIK banyak yang bisa nulis bagus... Mereka itu banyak yang cergas (cerdas dan lugas ) dalam menulis, juga sisi humornya nggak ketinggalan. Mokok'e.. uenak dibaca dan perlu (hehe, kaya motto TEMPO). Tapi memang banyak sekali kita mendapat pelajaran dari tulisan mereka yang didasarkan pengalaman sehari-hari. Contohnya, tentang pengamanan, keadaan mereka sehari-hari, keluarga, sehingga sebagai orang yang di luar "Keluarga Besar Polisi" bisa mengetahui dan melihat dari sisi lain juga, well, at least dari sisi para law enforcers itu.



Nah, salah satu yang kusukai tulisannya, karena ada unsur humorisnya , sih, adalah Usman Thoif Purwanto. Terus terang, waktu di PTIK saya nggak begitu tahu. (Bahkan mungkin nggak kenal, ya.. :P. Kalau pun kenal, aku menyapanya setelah melihat name tag di dada kanan atas saku badgenya). hehehe, ketahuan ignorenya Mam Esti, yach.. Namun ia kini menjadi salah seorang teman saya di facebook.(Hehe, makasih dunia maya)

Inilah salah satu tulisannya yang menurut aku menyenangkan dibaca.. Chek it out!!









... tidur seranjang...



Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih berdinas di kepolisian (sekarang juga masih, tapi di tempat yang 'agak' lain), saya pernah memimpin pengamanan unjuk rasa. Unjuk rasa ini riuh rendah, ramai, meriah, karena membawa sound system seperti hendak konser dangdut dengan bintang tamu goyang ngebor, ngecor, gergaji, patah-patah, blender, kayang, push-up.. semuanya. Saya datang membawa sepasukan polisi yang diangkut 3 truk, lengkap dengan peralatan helm, tameng, barikade, tongkat, loudspeaker, p3k, semuanya kecuali senjata api. (Tidak lupa kaca mata hitam, sekalian ngeceng siapa tahu ada yang bening2 lewat.. Pistol air? pasteee, kalo yang ini nggak bisa dicopot! hehehe)Saya datang, mengamankan gedung, berjajar di depan gerbang, saling berhadapan dengan arak-arakan demonstran. Saya berpikir sayalah polisi masa depan yang sedang di depan massa.. Siap untuk apapun. Sanggup melindungi siapapun. (Hebat benar ya?)Tiba-tiba datang Kepala Kantor yang saya amankan itu. 'Pak Polisi, biarkan saja semuanya masuk ke halaman, tidak apa-apa, nanti saya temui sendiri mereka', ujarnya. 'Wah, lebih baik perwakilan saja, Pak. Dua atau lima orang yang masuk menemui Bapak, yang lain biar tetap di luar, saya amankan, nanti repot bila semuanya masuk', usul saya.'Sudah, tenang saja, saya kenal kok sama mereka, tidak apa-apa. Masukin semua aja', Bapak Kepala Kantor ini bersikeras. (Seandainya kalimat terakhir perintah ini dibisikkan oleh Catherine Zeta-Jones di adegan dewasa, saya pasti akan menurutinya seketika... hahaha) 'Pak, nanti kalau semua di dalam, saya kerepotan mengendalikannya, ini massa lho Pak, beda dengan yang Bapak kenal orang per-orang', argumen saya sambil mengingat-ingat pelajaran Psikologi Massa sedikit-sedikit.'Pak Polisi, ini kantor milik masyarakat, saya kepalanya, mereka mau ke sini, nggak usah dilarang, biarkan mereka masuk', tegasnya. (Wah, keras kepala rupanya ini orang)Akhirnya saya kalah karena terjepit di tengah-tengah (aaaawwww... enyaaaak...hehehe). Demonstran ngotot minta masuk, saya larang. Kepala kantor menghendaki mereka masuk, saya juga larang. Wah, bisa jadi musuh bersama ini polisi.. hehehe..Akhirnya yang terjadi terjadilah... demonstran semua masuk, dialog deadlock, massa marah, mengamuk, kantor dirusak, Kepala Kantor digebuki dan babak belur, polisi kalang kabut, terjadilah bentrokan polisi vs demonstran. Tidak ada yang kalah atau menang, tetapi massa akhirnya bubar.



Saya melapor ke atasan saya cerita yang sebenarnya. Selesai tugas hari itu. Pulang.Besoknya terbitlah di surat kabar, polisi tidak becus, kurang antisipatif, tidak profesional. Siapakah gerangan polisi itu? Saya! Tidak ada yang menyalahkan massa, tidak ada yang menyalahkan Kepala Kantor, semuanya menyalahkan saya. Plus sebagai bonus, saya juga dipanggil bos yang lebih tinggi dari atasan saya dan dimaki-maki dengan bahasa yang tentu saja lebih indah daripada di koran itu. (Saya tahu, sebenarnya dia ketakutan dicopot karena kejadian itu, dan saya sudah siap juga bakalan dimaki-maki, jadi tidak terkaget-kaget lagi dengan teriakannya)...



Hari ini, saya prihatin sekali dengan kejadian di DPRD Sumut. Unjuk rasa yang menelan korban meninggal Ketua DPRD. Saya tidak tahu detail insidennya, saya tidak hendak menganalisis kejadiannya, tapi saya sedih dan masygul kenapa harus ada nyawa melayang karenanya? Apalagi orang-orang dengan tujuan yang sama (kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, kemakmuran) harusnya bisa duduk bersama dan merumuskan yang terbaik bagi semuanya. Bukankah bahkan orang-orang dengan mimpi yang berbeda pun, tetap dapat tidur bersama di ranjang yang sama? (Apa lagi dengan 'mimpi' yang sama!)



Well, enak kan dibacanya? Cerita ini saya dapatkan dari notesnya di FB. Tak jumput wae. Tampaknya ada beberapa tulisannya yang didelete, karena rupanya bapak ini takut menyinggung peranakan eh, perasaan orang-orang tertentu.

Jumat, 06 Februari 2009

Mati-matian


Mati-mati an





Wijaya I, medio Oktober 2008, 16:30

You know what? Teaching grown ups like the students of mine sometimes must have good humour. Otherwise, kita yang kesel badan, mereka juga kesel hati.

So.. adalah suatu sore yang manis, aku sedang menunggu waktu mentest speaking anak2 52.

Kulihat sebagian sedang menunggu giliran di depan 316 A. Persis seperti nunggu pembagian BTL, hehehe. duduk menggelosor, aduh maaak, melasnya perwira2 ini. Taruhan!! Pasti mereka nggak berani begitu di depan anak buahnya!! :P Bisa turun harga, mereka!!

Timbullah rasa ibaku. Kulihat dari kotak kaca pintu, Ms Liz, Mr. Lubis and Mr. Kemal berjuang mengusir rasa ngantuk dan berserius ria menginterview seorang dari mahasiswa dg pertanyaan yang globally sama tapi bisa mendapat jawaban yang berbeda dari tiap mahasiswa: " What is your experience in dealing with the transnational crime?"

Percaya! anak2 itu pasti banyak yang malemnya mencoba hapal mati, hehehe.

Iba dengan mereka, kudekati dan kuberi empathy. Dan bak sineterklas , sim sala bim!! beberapa bungkus permen keluar dari sakuku yang langsung masuk ke mulut2 yang haus rasa manis :P.
Beberapa dengan semangat bercakap denganku. Hahaha, rabiesku dengan cepat menyebar, while beberapa terbengong, (koq Mam Esti bisa bercanda juga, ya? Abiiis waktu ujian galak, siiich.)Wah, Kalo ngawas ujian sich: Jihad, maaan!! ^-^

Ketika sampai ke candaan mengenai mati, tiba2 ada yang nyeletuk. "Mam tau nggak, apa definisi mati dilihat dari kacamata lelaki ?" Aku melihat si AKP dari Batak ini lekat2. Eh, memangnya ada perbedaan dari sudut pandang baik laki dan perempuan?..
Aku menggeleng dalam diam. Menarik nich, buat orang yang lagi pengen insyaf seperti aku.

Tiba-tiba dia berjongkok dan bersikap gaya serius memandang kami yang duduk lesehan,
"Tau nggak, Mam? Ini nich definisinya, ya..

1. Tidur dengan Wanita Cantik : Bangga ½ mati.
2. Kalo Tidur dengan PSK: Mahal ½ mati. 3. Tidur dengan Wanita Jelek : Stress ½ mati.
Terus, kalo Tidur dengan Wanita Hyper : Capek ½ mati.
Sedang kalo Tidur dengan Pacar : Nafsu ½ mati.
Nah ini si Fulan, BU (katanya sambil menunjuk Iptu dari KAlimantan di sebelahku) kalo dia Tidur dengan Istri : dia mending pura-pura mati.(huahahaha, anak2 tertawa spontan) Kalo kita, Mam,,Tidur dengan isteri Orang : nafsu nggak mati-mati (yakin deh...) Nah, kalo ada yang Tidur dengan isteri jendral... katanya sudah pasti mati!!!

Aku terbengong bengong mendengar definisinya yang menurutku jelas ajaib dan asal jeblak itu. Tapi koq ya o masyuk akal yo?

Anak2 sekitarku Spontan meledak tertawa terbahak2 mendengar uraian yang pasti tak ada di kamus agama mana pun juga itu...

Begitu keras dan spontannya mereka tertawa samapai aku dengan panik harus menaruh telunjukku di depan mulut dan berdesis2: sssssshyyyhhhh!!! sssssssyyyyhhh!!ssssssstttttttt!!! seperti ngusir kucing jangan naik meja makan.
Betul saja, macan2 tidur di dalam menengok ke kaca, dan sebelum Bu Liz bangkit dan dengan gayanya yang tegas menegur kami, tanpa komando, kami berbarengan diem mendadak bagai jangkrik keinjek. Dan diam2 tertawa cekikikan pun masih terdengar dicicil dari beberapa mulut yang terbungkam tangan..

Aduuuh, mahluk ini, tapi nggak tau, ya mungkin ketularan dari atasnya, karena konon Pak Er cerita dia pernah dengar bahwa seorang Kapolda Sumut bilang Nikah is Musibah.. Alamaaakkk!!

So, daripada rabiesku menular lebih jauh. Cepat aku berkata," see ya, guys. Till my turn to test you later". Dan berlalu secepatnya ke ruangku

Ampuuun, deh,! Ya Tuhan ampunilah mereka. :)) Hahaha, my naughty students.


Love you all, guys!!

Another day of Placement Test


Today is another day of Placement Test. This time is Batch 53's.
Dari jam 8.30 hingga 12.30 kami, aku, Bu Kombes (P) Rohani dan Pak Kombes Er marathon menilai speaking skills mereka. Macam2 reaksi dan gaya mereka ketika ditest. Ada yang gugup, hingga menghitung 1 sampai 20 in English pun gak bisa, wah??. Ada juga yang dengan gagah menguraikan tentang police reform dan juga yang dengan gamblang menceritakan opinion mereka tentang their Chief of Regional Police alias Kapolda.termasuk BHD.
Xixixixi, maaf boss, walau Bapak kini jadi Kapolri I, tapi Bapak is not one in the favorite list. Yah, pendapat orang kan freely laaahh... bebas-bebas saja. mau suka mau enggak, terserahlah. Asal jangan mau yang enggak-enggak. Kaaannn?

Capek nyaaaa, jangan ditanya, hingga Bu Rohani merasa akhir2nya merasa mereka para testee, semua mukanya jadi satu type, hahaha. Ya enggak lah, Maaam. Ada yang bunder dan ada yang tipis kan? Ada yang begiiitu bundernya sampai2 kancing perutnya kebuka melulu. Aduuuh, pak Polisi!! Inget donk, One of the Core Basic Policing kan harus well dressed, bukan artinya harus kaya si Ken pacarnya Barbie, tapi ya kan harus enak dilihat. Sehingga bisa menimbulkan trust building seperti yang tadi disinggung juga oleh salah satu yang ditest. Wah, hebat juga lho wawasannya.. Sayangnya gak semua, hiks.. My Police in future.
Kangen aku dengan masa-masa dimana ada saat ketika anak2 yang cerdas dan berwawasan yang kuharapkan bisa menjadi cerminan polisi masa depan.
cerdas dan berwawasan serta bersih dalam imtaq juga.

Tapi kupercaya.. mahasiswa2 PTIK adalah berlian2 POLRI masa depan yang kan berkilauan membela tegaknya keindahan bermasyarakat dan menegakkan hukum dalam masyarakat yang madani. Amien..

Untuk mahasiswa2ku semua. Baik yang sudah lulus mau pun sedang menjalani tugas belajar di Kawah Candradimukanya kepolisian ini, Ibu ucapkan semoga kalian terus dapat meningkatkan keilmuan kalian, lebih dari kami yang tua-tua ini.
Di mana pun kalian berada, Ibu selalu mendokan kalian..Semoga sukses..

Di bulan Syawal ini, Ibu mohon agar maafkan segala kesalahan, baik secara lisan maupun perbuatan..
Love you all..