Tampilkan postingan dengan label mahasiswa PTIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa PTIK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

Remunerasi di tubuh POLRI, khususnya PTIK


Selamat berjumpa lagi, setelah lama nggak mengisi blog ini, pagi ini aku jadi tergelitik untuk mengisi lagi gara-gara satu kata: REMUNERASI. Aduh,ini adalah kata yg sangat populer di dua tahun terakhir ini di antara lingkunganku bekerja. Bagaimana tidak, sudah bukan rahasia umum lagi bahwa banyak orang baik di dalam lingkungan polri maupun di luar polri yang merasa bahwa salary mereka tidak sebanding dengan bobot kerja mereka yang terkadang harus mempertaruhkan kesehatan bahkan nyawa. bagaimana tidak, seorang anggota bisa saja berhari-hari,berbulan-bulkan bahkan mungkin saja bertahun-tahun berdiri di tepi jalan mengantur lalulintas di antara kendaraan kendaraan yang lalulalang di antara panas terik,hujan deras dan angin kencang,belum lagi banjir tanpa dilindungi alat pelindung kesehatan sepatutnya terkadang dengan hanya menggunakan tutup hidung/masker yang tentu saja tak dapat menyaring hazardous gas/air,zat-zat yang berbahaya seperti timbal,CO2, dan lain lain zat berbahaya lainnya yang dapat mengganggu dan mematikan. Begitu juga dengan tugas reskrim. Terbayang donk bagaimana rasanya bila harus menyamar berhari-hari bahkan berbulan-bulan mengikuti jejak buron, kalau misalnya mengikuti seorang suspect dengan menyamar sebagai tukang rokok,so be it! Berapa banyak waktu dan tenaga serta uang yang keluar untuk itu, belum lagi bila harus menebus drugs itu kalau harus dibeli? bahkan ada mahasiswa saya yg bercerita dia menyamar menjadi seorang mahasiswa dan berbulan-bulan tidak bertemu dengan orang-orang dekatnya atau bahkan orang orang yang mengenalnya sejak kecil untuk melindungi mereka dari kejaran jaringan kelompok pengedar narkoba itu. Bayangkanlah his sacrifice. Belum lagi mereka yang bertugas di daerah konflik. Jiwa raga mereka benar-benar terancam setiap saat. mereka tak tahu apakah akan hidup hari ini atau nanti Apakah akan ada panah yang tiba-tiba menancap di dadanya. ((curhat pak polisi))
Nah hal-hal seberbahaya itu, bila dibandingkan dengan salary mereka, tentu saja bisa dikatakan not worthed,tidak layak. biasanya officer yang melaksanakan adalah para anggota kelas bawah yang bersalary antara 1-2 juta, memang ada beberapa sangu yang disiapkan bila ada tugas tertentu. Namun terkadang jumlahnya tidak sesuai dengan pengorbanan atau kerja yang berat itu. Walau mungkin belum memadai juga, namun remunerasi diharapkan dapat membantu menambah semangat para anggota .yang telah berjuang tadi.

Kembali ke kata Remunerasi. Apakah arti Remunerasi itu?Remunerasi berasal dari Bahasa Inggris "Remuneration " yang artinya diberikan kepada orang lain karena imbalan karena telah menyelesaikan suatu pekerjaan, jadi hal ini bersifat tidak tetap atau berubah-ubah.Berbeda dengan salary yang sifatnya tetap baik jumlah maupun waktunya..Atau juga bisa berarti 'Payment" yang bisa berupa uang atau substitusi dari institusi atau perusahaan yang bersangkutan yang ditetapkan dengan peraturan tertentu suatu pekerjaan, dan bersifat rutin , karenanya honor, dan lembur tidak termasuk remunerasi..
Lucunya, kita terkadang salah lidah dengan kata Renumerasi yang berarti Penghitungan kembali atau re-counting, hehe.. (Begitu juga saya dulu, lha wong Remunerasi adalah kata yang baru,anyar dan gres )..
Remunerasi sudah didengungkan sejak lama. Untuk Polri sendiri bahkan Sri Mulyani yang ketika itu masih Menteri Keuangan,menyatakan bahwa remunerasi Polri sudah siap dijalankan. Namun hingga SM tidak menjadi Menkeu lagi, remunerasi nggak turun-turun juga (rupanya siapnya siap Jalan di tempat,xixixi)
Kapolri sudah medengungkannya dari 2 tahun yang lalu, namun kenyataannya, hingga kesalip oleh departemen/kementerian yang lain, remunerasi itu tak juga diterima. Berita dari Kapolri (waktu itu Pak Da'i) yang menyatakan remunerasi akan datang segera, namuuun.. sekali lagi namun, remunerasi tidak turun juga, saudara-saudara! Bahkan hingga Kapolri berganti menjadi Pak Timur Pradopo. Nggak tahu kekuatan apa yang dimiliki oleh si remun itu sehingga nggak merosot-merosot juga, sehingga berita yang tadinya A1 menjadi cuma sebesar kertas A4. wahh...

Entah para Kapolri itu menyadari atau tidak, sesungguhnya penundaan-penundaan itu agak mengganggu para anggota yang di lapangan juga (walau mungkin tak semuanya) sehingga mereka menjadi sedikit apatis dan menerima apa pun kabar tentang remunerasi dengan sebelah telinga, ("aach,itu sich dah lama,bu".."masa sich,Bu?".. "ah, rasanya malas mendengar itu",dlsb.) Tapi saya percaya walaupun mereka berkata demikian, harapan tetap ada dan giat kerja mereka tak berubah. Tetap giat tekun dan tulus dalam melaksanakan pengabdian mereka.(AMIN).
Di bawah ini ada sedikit informasi tentang remunerasi;

Remunerasi di lingkungan Polri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Kebijakan Reformasi birokrasi. Dilatarbelakangi oleh kesadaran sekaligus komitmen pemerintah untuk mewujudkan clean and good governance. Untuk itulah pemerintah menyetujui pemberian tunjangan kinerja atau remunerasi di lingkungan Polri. Bagi Polri, tunjangan kinerja itu merupakan hal positif untuk peningkatan kinerja. Tunjangan kinerja merupakan imbalan pemerintah untuk kinerja anggota kepolisian. Jumlah tunjangan yang diberikan, telah disesuaikan dengan kebutuhan minimal yang layak untuk seorang anggota Polri.

Pemberian tunjangan itu didasrkan pada Peraturan Presiden Nomor 73 tahun 2010 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di lingkungan kepolisian. Tunjangan itu diberikan dalam 18 kelas jabatan sesuai dengan kepangkatan. Berikut 18 kelas jabatan tersebut:

Kelas Jabatan 18 — Rp21.305.000

Kelas Jabatan 17 — Rp16.212.000

Kelas Jabatan 16 — Rp11.790.000

Kelas Jabatan 15 — Rp8.575.000

Kelas Jabatan 14 — Rp6.236.000
Kelas Jabatan 13 — 4.797.000
Kelas Jabatan 12 — 3.690.000
Kelas Jabatan 11 — 2.839.000
Kelas Jabatan 10 — 2.271.000
Kelas Jabatan 9 — 1.817.000
Kelas Jabatan 8 — 1.453.000
Kelas Jabatan 7 — 1.211.000
Kelas Jabatan 6 — 1.010.000
Kelas Jabatan 5 — 841.000
Kelas Jabatan 4 — 731.000
Kelas Jabatan 3 — 636.000
Kelas Jabatan 2 — 553.000
Kelas Jabatan 1 — nihil

Ini adalah urutan berdasarkan kelas Jabatan. Ada yang mengatakan bahwa pembagian remunerasi berdasarkan institusi di tempat mereka bekerja. Juga berdasarkan kinerja mereka. Jadi bisa saja bagi tiap institusi pembagian atau jumlahnya berbeda. (Hopefully not).. Kalau berdasarkan kinerja, mana yang bekerja lebih baik maka akan mendapatkan jumlah yang lebih baik, maka saya setuju'
Menurut rumir yang beredar. Khusus untuk PTIK, atau sekarang disebut STIK , maka penghitungannya khabarnya adalah hanya keluar 6 bulan, itupun yang keluar adalah 40%nya. Entah 40%nya adalah jumlah yang di atas atau bahkan hanya empat per seppuluh dari jumlah di atas. Tentu saja per bulannya. Namun ada 2 versi.
Kurang lebihnya begini;
Versi pertama, bila Kelas Jabatan Anda adalah Kelas jabatan 6, maka jumlahnya adalah Rp.1.010.000;- per bulan. Yang diterima adalah 6 x Rp.1.010.000 jadi Rp 6.060.000;-
Versi ke dua, jumlah remunerasi 6 bulan hanya diterima 40%nya, jadi hanya Rp.2.424.000;-.. yang diterima.

Jadi untuk remunerasi yang khabarnya untuk 2010 ini, maka .. silahkan berhitung. ;)
O ya, khabarnya untuk mahasiswa STIK PTIK jumlahnya akan lebih sedikit.
Sekali lagi, perhitungan ini hanyalah dari apa yang saya dapat berdasarkan berita-berita yang saya dapat dari sekitar saya. Ada pun kebenarannya, maka akan kita lihat setelah benar-benar menerimanya,ya..
Wallahualam.

More about Remuneration in Polri? Find the article here or here

Kamis, 04 Februari 2010

SPOONERISM

SPOONERISM

Have you ever tried to say something but then it happened that the speaking ‘got accident’ ? It doesn’t come out as you expected.

It is called Spoonerism.

Well, still don’t get it?

Okay, here is an example :

“Mam., last night, I had a dad brim!” Do you know what the meaning is? I don’t! unless I had to think hardly that he got an ‘accident’.

Then I realized that he was trying to say,” Mam, I had a bad dream”!

---

Where is the term “Spoonerism” after?

The Reverend Dr W A Spooner was a very important man in Oxford University but he used to have accidents in speaking. He often changed the beginning of two words like this :

# We all know the feeling when we have a half-warmed fish in our hearts.

( He meant to say a half-formed wish)

# Kinkering Kongs their titles take.

(the first line of a religious song, or hymn, is really Conquering kings their titles take.)

So Dr Spooner’s name forms part of the name we give to accidents of that kind: spoonerism.

Here are examples that the dictionaries give when they explain the word spoonerism.

· Let me sew you to a sheet (for: show you to a seat)

Longman Dictionary of Contemporary English)

· You have hissed the mystery of lectures. (for : missed the history)

Concise Oxford Dictionary

· Start your journey with a well-boiled icicle. (for a well-oiled bicycle)

Oxford Advanced Learner’sDictionary

(Icicle : dripping water that has frozen to form a point of ice)

· This country owes much to its horny-handed tons of soil.

(for sons of toil)

Webster’s New Collegiate Dictionary

Toil : hard work

· Our queer dean! (for dear Queen)

Encyclopedic World Dictionary

Queer : very unusual

Dean : important man in the church or a university.

Here are some spoonerisms for you to work out:

· He stopped at the gate, “High mause!” he said proudly.

· “ I’m sad to glee you”

· The trast lane goes at nidmight.”

· I’m going to fight the liar because it’s crowing gold.”

Kamis, 24 Desember 2009

KIBI 56

Just for your information (FYI) we are going to hold the KIBI (Short Course for English) for the PTIK Students batch 56.
It will be done in a week from January 4 until January 11, 2010.
First of all a placement test will be held for the skills.
Some lessons we are going to have are " Some parts of speech, How to make sentences, passive voice, How to make questions either in W-H Questions and Yes/No Questions."
We are going to make how the terms of INP institution such as Kapolsek, Kapolres, Kanitlantas etc. Do you know how to use them? Cannot wait to see you, guys!


Mahasiswa PTIK, mari kita BISA berbahasa Inggris!

Sabtu, 28 November 2009

PPJJ PTIK

Beberapa kali saya ditanyai tentang persyaratan masuk PTIK, saya masih menunda karena harus mencarinya dahulu. Kini saya tuliskan persyaratan untuk masuk PTIK Learning Long Distance. Saya tidak tahu apakah persyaratannya berbeda antara satu Polda dengan Polda yang lain. Ini saya cantumkan Polda di mana saya tinggal yaitu Polda Jawa Barat.


1. PERSYARATAN UMUM

1) PERWIRA POLRI LULUSAN AKPOL ATAU D-3 PTIK, YANG BELUM MENGIKUTI DIK SELAPA POLRI (TAHUN MAKSIMAL...*).

2) MINIMAL BERPANGKAT IPTU DENGAN MDDP 1 (SATU) TH PADA TANGGAL (.....*)

3) USIA MAKSIMAL 32 TH PADA SAAT PEMBUKAAN PENDIDIKAN.

4) MEMILIKI KINERJA YANG BAIK/ PRESTASI TUPOK POLRI YANG MENONJOL YANG DIBUKTIKAN DENGAN SURAT KEPUTUSAN KAPOLRI/ KAPOLDA.

5) TIDAK BERMASALAH (MEMILIKI SURAT KETERANGAN HASIL PENELITIAN/ SKHP YANG DIKELUARKAN DARI POLDA/ MABES POLRI).

6) DITUNJUK/ DIUSULKAN DENGAN SPRIN UNTUK MENGIKUTI SELEKSI DARI KA/ PIMPINAN YANG BERWENANG DARI KA/ PIMP YANG BERWENANG.

7) MENGIKUTI DAN LULUS SELEKSI YANG MELIPUTI :

a) PEMERIKSAAN ADMINISTRASI DAN SKHP.

b) PEMERIKSAAN KESEHATAN

c) PENGUJIAN KESAMAPTAAN JASMANI.

d) PEMERIKSAAN PSIKOLOGI

e) UJIAN AKADEMIK/ TERTULIS MELIPUTI : PENGETAHUAN KEPOLISIAN, KODE ETIK PROFESI KEPOLISIAN, BAHASA INGGRIS DAN NASKAH KARYA PERORANGAN (KOMPETEN DENGAN TUPOK POLRI).

2. PERSYARATAN ADMINISTRASI :

1) SPRIN/ SURAT PENUNJUKAN MENGIKUTI SELEKSI DARI KA/ PIMP YANG BERWENANG.

2) DAFTAR RIWAYAT HIDUP SINGKAT.

3) SKEP PENGANGKATAN PERTAMA MENJADI PERWIRA.

4) PETIKAN SKEP PANGKAT TERAKHIR.

5) PETIKAN SKEP JABATAN TERAKHIR.

6) IJAZAH DIKPA POLRI.

7) SKHP YANG DIKELUARKAN OLEH POLDA/ KASATKER SETEMPAT

8) DAPEN DARI PIMPINAN/ KASAT ORGANISASI

9) PAS PHOTO BERWARNA 2 X 3 CM SEBANYAK 4 LEMBAR DAN 3X4 CM SEBANYAK 2 LEMBAR, MENGGUNAKAN PAKAIAN PDH DAN TANPA TUTUP KEPALA DENGAN LATAR BELAKANG MERAH.

10) SELURUH PERSYARATAN DIMASUKAN DALAM MAP WARNA HIJAU SEBANYAK 3 RANGKAP.

KET : * DISESUAIKAN SAAT DAFTAR

PERSYARATAN SEWAKTU-WAKTU DAPAT BERUBAH

Rabu, 06 Mei 2009

Suatu pagi saat-saat Speaking Test Angkatan 54













The B Law Enforcement Class of Batch 54

Di ujung semester ini, saya mendapat giliran mengajar di Gakkum angkatan 54. Sama dengan di Binkam, kelasnya pun B.
Kelas Gakkum 54.. Hmmm, what can I say? Gakkum mungkin banyak seperti typically Kelas-kelas Gakkum lainnya, penduduknya seringkali antusias. Antusias dalam menjawab, dalam ngocol, menjawab (nggak tau benar atau pun tidak:P), juga lebih ada punya ilmu ayam-waktu-siang-panas-ngangkrem-ngadem-di-bawah- pohon-yang-rindang, hehehe... mungkin ini personally dan per kasus, lho. Tapi.. ya itu dia! Jadinya lebih variously colourful, lah.. hahaha..



Salah satu orang Padang yang ada di PTIK:




Yudha Satria, Hendrawan and Iwan Umar: Penggembira in the Class


TBC (To Be Continued)..

Senin, 27 April 2009

Salute bagi guruku, sebuah catatan seorang murid

Keterangan photo:
Mahasiswa PTIK sedang mau Speaking Test Ujian Tengah Trisemester. Kelihatan donk di tangan mereka pada menggenggam kertas. Itu yang mereka hapal kalau masuk nanti. Percaya deh, banyak yang berusaha hapal mati! Padahal ujiannya sih tentang Curriculum Vitae mereka yang notabene adalah pengalaman mereka sendiri. Tapi teteeep aja kudu ngapalin. Soalnya : This is English Test, maaan!!

Zulanda sang pemilik notes ada di sebelah kananku. No 5 dari kiri arah foto.


Suatu pagi, ketika kusedang selesai mengajar, sebuah status bertajuk "Salute Bagi Guruku" dengan tag namaku terbaca olehku. Ternyata oleh ZulAnda, one of my students in B 54 PTIK. I never know to whom he presents the notes for, but it really is touching.
I DO agree with him.


Salute bagi guruku
17 April 2009 at 11:40
Uploaded via Facebook Mobile

Manusia hidup cenderung ingin kaya, berkuasa, dan berjaya. Namun hari ini aku melihat seseorang yang ingin membagi kekayaannya, yaitu ilmu pengetahuan , membagi kekuasaannya untuk kita menggunakan ilmu pengetahuan itu , dan memberikan kejayaannya dengan kita sehingga hilanglah kejayaannya. Mungkin ada pameo ,'' apalah kejayaan seorang guru ? '' , ya begitulah ''mesin pencetak uang'' terkadang tak sebanding nilai yang dikeluarkannya, Namun mesin itu akan memiliki nilai tinggi bila ia mengeluarkan kertas yg memiliki nilai yang tinggi bagi bangsa ini. Karena nilai tidak selamanya kita hitung dengan nominal atau angka angka semata.
Salut bagi guruku terlepas dari kelebihan dan kekuranganmu, semoga Allah menghitung pahala dari tiap lembar yang engkau keluarkan wahai guruku !

Comment :
Lia Sutisna Latif:
Alinea yang sangat mengharukan... Walau ilmu sangat tinggi value-nya, jika semua dilakukan dengan tulus oleh sang guru demi kemajuan berpikir dan masa depan sang murid semua akan menjadi "reward" yang tidak akan habis untuk sang guru.
Guru yang tulus tidak akan mengharapkan imbalan apapun.. guru yang tulus akan selalu meninggalkan jejak yang ... Read moresangat ternilai, ketulusan akan membuahkan hasil yang dahsyat untuk sang murid...
Terima kasih sekali Bang Zun... rangkaian kata-kata Anda sangatlah dahsyat dan sangat bermakna...

Viptia Esti :

Dear, I am so speechless. Whoever the person in your notes is, still I pray for him/her. Apalah seorang guru kalau ia bukan yang digugu lan ditiru. Apalah ilmu di kita bila hanya pandai untuk diri kita sendiri. Ilmu bukanlah semata uang , ia akan bertambah bila dibagi, ia akan bertambah kaya bila selalu dihibahkan. Allah memberikan kita ilmu, hanya bila selalu diasah.Berbahagialah kita bila selalu berbagi. I have nothing to share with you, only knowledge, so that's what I can share for others...

ZulAnda :

So sweet ...... Karena itulah pekerjaan yg tak ada pensiunnya hingga akhir hayatnya.......hingga menjelang sekarat sakratul mautpun seorang guru (kyai) masih sempat mengajarkan ''Ingatlah Allah......'', dan itulah ajaran yg tak akan dilupakan oleh muridnya


-------------
Ia termasuk seorang mahasiswa PTIK yang kini ngeblog. Beberapa tulisannya bisa kita ikuti pada salah satu tautan blogku ini.

Sabtu, 25 April 2009

Pelacur Akademik di PTIK

Actually this is just an old issue, but lately it is rampantly heard in the recent batch, so I would like to present this official note for your information. Hopefully you can digest it wisely.


MARKAS BESAR

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERGURUAN TINGGI ILMU KEPOLISIAN

PTIK MENJAWAB PELACUR AKADEMIK

Pelacur akademik, itulah simbol yang diberikan oleh seorang penulis yang dimuat dalam Website Polri beberapa waktu yang lalu. Kritikan ini perlu disikapi secara hati-hati. Terlebih dahulu harus diakui?seperti halnya terjadi pada hampir semua lembaga pendidikan Polri (warisan dari ABRI)?bahwa isu seperti yang dikeluhkan mewarnai proses pendidikan PTIK sampai beberapa tahun yang lalu. Permasalahannya, berbeda dengan lembaga pendidikan (tinggi) pada umumnya, tradisi penetapan peringkat nilai kelulusan dalam lingkungan Polri dapat membawa konsekuensi pada pembinaan karier. Sehubungan dengan itu di bawah pimpinan Gubernur Prof.Dr. Farouk Muhammad berbagai langkah penting telah dilakukan untuk menata-kembangkan almamater ini, mulai dari pembangunan sarana/prasarana dan kurikulum sampai kesejahteraan dan moral/kepribadian termasuk sistem penilaian.
Pertama, untuk menjamin obyektivitas penilaian skripsi dikembangkan sistem penilaian naskah yang dilakukan oleh tiga penilai untuk tiap skripsi dan hasilnya dikonversi; nilai naskah (1/5) kemudian digabung dengan nilai ujian skripsi. Sebelumnya, pernah terdeteksi kecenderungan mahasiswa yang bermain dengan petugas dalam pemilihan penguji (yang murah nilainya).
Karena itu, mulai angkatan 42 penentuan penguji dilakukan dengan cara undian. Selain itu, tradisi menyediakan snack untuk para penguji oleh teruji dilarang. Pelaksanaan ujian skripsi dilakukan oleh dosen senior, guru besar dan para pejabat Polri yang mempunyai komitmen dan kredibilitas yang tidak diragukan.
Kedua, hasil ujian/penugasan oleh masing-masing dosen harus dinilai dan dikembalikan?beserta catatan koreksi/arahan jika ada sehingga mahasiswa tahu kesalahannya dan terbuka peluang untuk komplain dan perbaikan jika ada kekeliruan dosen dalam penilaian. Nilai ujian diumumkan secara terbuka dan terus dihimpun sampai akhir pendidikan; kebijakan serupa juga berlaku untuk nilai kepribadian. Ketidak-hadiran mahasiswa pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar, akan berakibat pada menurunnya nilai kepribadian, dengan perhitungan tertentu yang dihimpun setiap bulan. Jika nilai kepribadian di bawah 70 maka maksimum yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti ujian. Perwira Penuntun dan Perwira Pengawas selalu memonitor dan memberi nilai aktivitas mahasiswa (Untuk metode penilaian kepribadian yang lebih baik lagi dewasa ini sedang digarap oleh suatu tim).
Ketiga, karena ditemukan indikasi adanya upaya mempengaruhi pengawas oleh para mahasiswa, maka susunan personel pengawas telah dirombak dengan mengikutkan personel yang secara pribadi dipercaya oleh Gubernur.
Keempat, setelah menerima surat kaleng tentang tuduhan adanya dosen tertentu yang berbaik hati menuliskan skripsi mahasiswa, Gubernur PTIK membayar detektif untuk mengintai rumah mereka; kalaupun hasilnya nihil, diyakini, langkah tersebut dapat mencegah praktik semacam itu jika memang tuduhan tersebut benar.
Kelima, untuk mencegah kebocoran, soal ujian harus diserahkan oleh masing-masing dosen langsung kepada Gubernur PTIK dan diperbanyak pada hari ujian. Selain itu, beberapa kali diadakan mutasi internal untuk menyikapi kemungkinan adanya kolusi antara mahasiswa dan petugas; idealnya mutasi eksternal, tetapi apa boleh buat usulan PTIK hampir tidak masuk dalam pertimbangan penting bagi para penguasa di bidang manajemen SDM Mabes Polri.
Keenam, peningkatan kesejahteraan, baik personel staf terutama para dosen merupakan keniscayaan bagi Gubernur PTIK. Sekarang honor mengajar dosen senior 150.000 dan dosen biasa 100.000 (bersih) per dua jam pelajaran. Di samping itu dosen mendapat honor pemeriksaan makalah penugasan, pemeriksaan hasil ujian dan pembimbing, penilaian naskah dan penguji skripsi.
Lembaga juga menyediakan fasilitas antar jemput dosen.

Ketujuh, klimak dari seluruh proses penilaian akhir pendidikan dilakukan secara transparan. Rapat Pimpinan penentuan peringkat menghadirkan pengurus Senat/Angkatan Mahasiswa (suatu tradisi yang hampir tidak mungkin diterapkan pada semua pendidikan Polri termasuk TNI) dengan daftar nilai yang dipegang oleh para mahasiswa dan dimuat dalam komputer.
Kalaupun, dengan langkah-langkah pembenahan yang dilakukan masih saja ada penilaian subyektif apalagi pelacuran akademik mungkin sangat terletak pada diskresi dosen yang tidak bisa secara optimal diintervensi oleh lembaga. Tetapi nampaknya sukar juga untuk mempercayai tuduhan semacam itu karena para dosen terutama dosen senior adalah guru besar yang kredibiltasnya tidak diragukan, seperti Prof. Loebby Loeqman, Prof. Parsudi Suparlan, Prof. Sarlito, Prof. Muladi, Prof. Jimly Asshidiqqie, Prof. Paulus, Prof. Harkristuti, dan lain lain.
Walau demikian, kami tidak ingin mengenyamping keluhan-keluhan semacam itu. Alangkah bijaksana dan bermartabat apabila ada saran, kritikan atau pengungkapan kekecewaan disampaikan langsung ke pejabat PTIK agar kami bisa segera memperbaiki/menyempurnakan apabila memang benar ada kekurangannya atau langsung kepada Gubernur PTIK dengan jaminan kerahasiaannya. Kepada penulis keluhan ini bahkan kami tawarkan alternatif, jika perlu menggunakan jasa pihak ketiga untuk menyajikan data yang dapat dipertanggung jawabkan. Karena dikhawatirkan, isu-isu semacam ini hanya dilontarkan oleh mahasiswa atau mantan mahasiswa zaman ?doeloe? yang dirinya atau rekan seangkatan (Akpol)-nya gagal menjadi ?the best,? atau juga bukan tidak mungkin didramatisasi oleh orang-orang yang tidak senang bahkan mencari-cari kelemahan dalam kepemimpinan PTIK sebagai suatu lembaga.
Akhirnya kami kembalikan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, kepada siapa kami akan mempertanggung-jawabkan kepemimpinan di hari kemudian.
Terima kasih atas kesediaan anda membaca tulisan ini.


GUBERNUR PTIK

DIR AKADEMIK

U.b.

KABAG MINDIK

Drs. NICODEMUS ALLE

KOMISARIS BESAR POLISI NRP.: 50110146

That's the official note that was released on October 2005. I believe that the note was executed like it was instructed ..when the governor is still Mr Farouk Muhammad! What about now? I am sorry to say that after Mr Muhammad's leadership, and other persons become governors, the rules change a slice, :P. In fact, you can see that the 'Pengawas', 'Penguji', 'Pembimbing' or the Sekretaris' can bring home a fruit parcel. Even in one case, a Penguji was served by a bunch of newspaper. :0.. Well, I don't know exactly, but the student that was asked to serve it was the one who told me. Another case is a 'Pembimbing' asked his student to help the 'Pembimbing' cousin to have his SIM! No wonder because the student is a Kanit Lantas! But this practice? Can it allowed?

Also it was just a public secret that some Secretary are so 'enak orangnya', become preferances because he or she only notes a lttle correction. Actually Mindik has already jumbled up the names of the 'Penguji', 'Pengawas' and the 'Secretary', but still it presumes happens until now.

For the sixth code above. It is true that the Lecturers got their honorariom in that sum, but when it will be delivered and received by the lecturers? Especially in Pak Farouk Muhammad's era. The lecturers received their rights of honourarium three months later or even seven months later!! Well, is it probably of the 'Pembangunan PTIK' at that time? There was a joke at that time among the lecturers that 'Tuh honormu sudah jadi pager PTIK!"

It is a secret public that the lecturers especially the freelance ones 'makan pengabdian' at that time. Yet when it was asked about that, the answer was just ' later.. because no money for that!' Excuse me? Shoouldn't there a budget for teaching?

That was the worst time for the lecturers. After Pak Muhammad, the 'honor' received in more proper time. Although lately that becomes 'old tradition': paid months later. I don't know why. Isn't in Sunnah Rasul said " Bayarlah upah budakmu sebelum keringatnya mengering"? (Pay your slave before his sweat dries). But look what happens here. Okay we are not complaining! We are just asking.


Some students doing their skripsi are complaining about how difficult to find, to see or cooperate with their 'Pembimbing', and they have to see in their houses or outside or even in a restaurant. Well, I won't blame them, but aren't those practices will produce a kind of conversions of good willing?I mean, it can happen that maybe the student and the 'Pembimbing' will do something that beyond the rules? For example in elevating the student's score and the 'Pembimbing' becomes very kind. Well, sort of.

I see that not all 'Pembimbing' do this practices. By my own eyes I see that some 'Pembimbing' are those who are straight, objective, really want to help the 'stressed' students (because this student is having so many pressure for their skripsi, hehehe). I really take a courtasy and put two thumbs up for them. These 'Pembimbing's even do not sleep for defending their 'mahasiswa yang dibimbing'. Give some ideas, ready to help and willing to give some tips in the 'court room'.

Dears all,

Once again this is just an issue that happen in our beloved PTIK. Take a good point in this writing of mine. Just an information. I hope you can take it wisely.

Wish you the BEST!!